Jumat, 28 Maret 2008

Rush Hour

Gw tahu gw belum cukup umur untuk mengatakan pendapat gw mengenai ini. Dan mungkin yang gw tahu tentang ini belum cukup. Dan gw tidak tinggal di tengah kesibukan atau sekolah di sana. Tapi hal ini cukup menginspirasikan gw dan cukup membuat gw tak sabar untuk menjadi lebih dewasa dari sekarang. Saat ini gw excited banget mengenai ini, tapi itu karena gw belum mengalaminya. Sebenarnya sih sudah, dan gw langsung kesal itu. Dan setelah hari itu berakhir, gw menjadi merindukannya.
Pengalaman pertama gw mengenai rush hour yaitu ketika gw harus ke suatu sekolah swasta terkenal di Jakarta Selatan dengan urusan mengikuti suatu kompetisi dengan membawa nama sekolah. Jadi bisa dikatakan bahwa pengalaman pertama gw itu terjadi secara tidak sengaja.
Ketika itu gw pergi dengan menggunakan Busway. Dan, tebak berapa jam gw berada di jalur busway hanya untuk mencapai sekolah swasta itu? Dua setengah jam! Yang membuat lama adalah halte transitnya, terutama di Kp Melayu dan Matraman. Di Dukuh Atas tidak terlalu karena gw melawan arus rush hour yang rata-rata menuju ke pusat kota Jakarta. Bisa ditebak gw pergi ke sekolah swasta mana. By the way, di dua halte transit itu gw harus mengantri selama setengah jam di masing-masing halte untuk mendapatkan sebuah bus. Itupun dalam keadaan penuh sesak. Dan gw ngga pernah duduk sampai tujuan.
Untuk beberapa orang, rush hour di fasilitas kendaraan umum memang menyebalkan. Tapi buat gw itu pertanda positif untuk satu hal: penggunaan kendaraan bermotor berkurang. Padahal gw sempat melihat beberapa para penumpang bus lain, ‘partner sehati’ yang ketika itu berbagi bus dengan gw, terlihat bonafid. Besar kemungkinan mereka punya kendaraan pribadi. Syukur deh bila mereka sadar bahwa kendaraan pribadi membawa polusi.
Macet di jalan raya? Fuck with them, that’s what I say to the car owners. Fakta: pengguna kendaraan pribadi adalah penyebab utama kemacetan, bukan kendaraan umum. Ketika car free day, Jalan MH Thamrin bebas macet karena kendaraan pribadi dilarang lewat. Bahkan bisa dibilang sepi.

Online Game

Ini adalah game paling terfavorit di antara pengguna internet, yaitu game yang antara penggunanya bisa terhubung melalui jaringan internet. Ini adalah jenis game yang bisa dimainkan banyak orang dalam waktu bersamaan. Bahkan kenyataannya game ini seperti nonstop. Bis adimainkan kapan saja asalkan ada komputer dan jaringan internet kecuali pada saat-saat tertentu seperti maintenance.
Pemain game ini bervariasi, dari anak kecil hingga dewasa. Gw ngga tahu pasti berapa range usia para pemain game ini, tapi gw sudah melihat anak SD dan pegawai kantoran yang baru dipecat main game ini setiap hari^^. Memang amat bervariasi, usia, orangnya, dan jenis kelaminnya. Kebanyakan sih laki-laki, tapi dengan semakin meningkatnya jumlah pemain game ini, jumlah pemain perempuan juga semakin banyak. Setiap gw ke game center, minimal gw melihat dua perempuan sedang bermain game ini.
Selain itu ada begitu banyak persepsi umum bahwa bermain game ini terlalu sering memiliki banyak efek buruk. Benarkah itu? Beberapa benar, tapi ada juga yang hanya mitos. Persepsi negatif yang benar itu diantaranya:
  • Merusak mata, kecuali jika menggunakan layar LCD dan bermain dengan jarak antara mata dan layar sejauh kurang lebih delapan puluh centimeter. Dijamin mata akan terjaga. Tapi sudah jelas gamer tidak akan menjauhkan matanya dari layar sejauh itu.
  • Mengancam kesehatan. Terlalu banyak duduk bisa membuat kta semakin jarang bergerak. Berpotensi mengakibatkan kerapuhan tulang. Terlalu sering bermain juga akan mengurangi atau bahkan meniadakan waktu olahraga kita.
  • Mengurangi waktu belajar, terutama bagi orang yang perlu belajar (siswa, mahasiswa). Itu sudah jelas.
  • Merusak kehidupan. Tergantung bagian dari kehidupan mana yang rusak akibat fanatisme berlebihan ini. Entah lupa sekolah, kuliah, atau kerja. Lupa pulang ke rumah. Uang sering habis, tak punya tabungan sehingga banyak berhutang. Diputusin pasangannya karena berbagai hal. Uang SPP dipakai untuk bermain. Sering bolos, sehingga dikeluarkan dari sekolah, kampus, atau tempat kerja. Kok gw banyak tahu ya? Sebagian pengalaman, sebagian menyaksikan^^. Bahkan gw sudah melihat berita ada orang yang mati ketika bermain online game, tepat ketika karakter yang dimainkannya mati. Dunia ini aneh banget ya?
Tapi ada juga persepsi umum negatif yang tidak sepenuhnya benar. Satu hal yang gw tahu adalah bermain game menjadikan seseorang bodoh. Itu tidak selamanya benar. Dalam beberapa hal, gamer menjadi semakin cerdas. Sayangnya kecerdasan semacam itu dipandang sebelah mata oleh masyarakat dan kalangan dunia pendidikan.
Kecerdasan yang dimaksud diantaranya adalah kemampuan menganalisa, menghapal, memprediksi, kerja sama tim, dan strategi dalam memecahkan masalah. Sekilas itu semua juga diperlukan dalam pelajaran sekolah. Tapi sepertinya itu tergantung dari mood gamer, mau fokus pada pelajaran atau pada game.
Seperti contoh, game favorit gw, Warcraft. Dalam game ini, gamer ditantang untuk mengembangkan karakter yang dimainkannya dengan benar. Selain itu, gamer juga harus tahu kemampuan lawan (menghapal), kemungkinan serangan dan taktik yang akan dilakukan lawan (memprediksi), lalu mencari jalan bagaimana mengalahkannya (membuat strategi, analisa), secara individu ataupun dengan kerja sama tim. Masyarakat tidak bisa begitu saja mengabaikan kemampuan-kemampuan itu. Terbukti, kemampuan semacam itu berguna di kehidupan nyata.
Yang menjadi masalah mungkin adalah membagi waktu. Terlalu sering bermain game jelas mengurangi waktu belajar sehingga tidak ada waktu untuk belajar pelajaran sekolah. Seandainya gamer punya waktu belajar cukup, dijamin kemampuannya dalam pelajaran sekolah lebih besar dari pada yang tidak bermain game.
Yang berpotensi menjadi salah persepsi lagi mungkin adalah kemampuan menghapal gamer. Bila benar kemampuan menghapal meningkat, kenapa masih ada gamer yang jatuh pada pelajaran yang berkaitan dengan menghapal? Sekali lagi, waktu belajar yang menjadi masalah. Gamer yang hebat jelas memiliki kemampuan menghapal yang hebat. Dan tidak benar bermain game bisa membuat kita lupa pada hapalan materi pelajaran yang pernah dilakukan. Tidak benar bahwa di dalam otak, suatu memori bisa menggeser atau menghapus memori lain. Lupa hanya masalah fisiologis, sama dengan pikun atau hilang ingatan. Kapasitas otak manusia tidak terbatas. Itulah yang dikatakan Galileo Galilei. Bahkan Albert Einstein pun yang otaknya diawetkan oleh para ilmuwan ternyata baru menggunakan sepuluh persen dari potensi maksimal otaknya. Kecerdasan yang dimiliki Einstein mungkin belum mencakup keseluruhan kecerdasan yang dimiliki gamer hebat.
Jadi, jangan ragu untuk bermain game, dan juga ingat pada kehidupan nyata. Gw punya pengalaman, berkenalan dengan seseorang di online game. Ia mengaku cewek. Tapi setelah diselidiki, ternyata dia adalah cowok. Syukurlah gw belum sempat suka dengannya (hiiii!). Ini juga salah satu dari akibat buruk bermain online game, rusaknya kehidupan^^.

Selasa, 04 Maret 2008

Universitas

Setelah menyelesaikan SMA atau yang sederajat, impian para siswa tentu saja melanjutkan pendidikan ke universitas, sekolah tinggi, akademi, dan institut negeri. Dari sebagian besar pasti sudah mempersiapkan jurusan favoritnya dan apa yang dibutuhkan untuk mencapainya. Tapi sebenarnya, sudah sesuaikah antara minat dan kemampuan? Banyak siswa yang tidak tahu potensinya sendiri dan ada juga yang memiliki minat yang jauh di luar jangkauan kemampuannya.
(Untuk selanjutnya, bila gw menyebut SMA, artinya adalah SMA dan sederajatnya. Dan bila gw menyebut universitas, artinya adalah universitas dan yang sederajatnya. Agar ringkas)
Untuk mengatasi hal itu, biasanya sekolah mengadakan psikotes untuk siswa-siswanya atau siswa melakukan psikotes di lembaga tertentu atas inisiatif sendiri. Hasilnya bisa bersifat sugestif dan mampu mengubah arah minat siswa.
Apapun bisa terjadi di tengah-tengah perjuangan siswa mencapai perguruan tinggi, dari waktu ketika siswa berpikir mengenai universitas hingga akhirnya diterima. Ada banyak faktor. Salah satunya adalah hasil psikotes itu. Yang lainnya adalah faktor keluarga, teman, guru, dan lain-lain termasuk pihak universitas sendiri. Universitas dapat memberikan pengaruhnya dengan mengadakan berbagai kegiatan di suatu SMA.
Di antara siswa tentunya ada jurusan favorit. Nih, yang gw dapat dari temen-temen gw:
  • Akuntansi. Biasanya siswa IPS. Tapi tidak menutup kemungkinan siswa IPA memilih ini karena dipengaruhi oleh gosip bahwa kuliah di akuntansi itu gampang dan pekerjaan mudah didapat. Juga kabarnya, mayoritas mahasiswa STAN sebelumnya adalah siswa IPA.
  • Manajemen. Sama dengan diatas. Dan kabar yang gw denger, lulusan manajemen memiliki banyak bidang pekerjaan untuk dipilih.
  • Hukum. Bisa IPS, bisa IPA. Tapi ini kan materi IPS? Ya, memang banyak anak IPA yang masuk jurusan yang terkait dengan IPS, sedangkan siswa IPS yang masuk ke jurusan IPA jarang. Hitung saja, kapasitas kursi untuk jurusan IPS di perguruan tinggi di seluruh Indonesia lebih banyak dari pada kursi untuk jurusan IPA. Dan murid IPA umumnya tidak sebanyak siswa IPS di SMA seluruh Indonesia.
  • Kedokteran. Pasti siswa IPA. Kalau ada siswa IPS mendaftar masuk sini, artinya nekat. Kecuali bagian manajemen rumah sakit dan psikiater / psikolog nya.
  • Teknik Mesin. Jurusan paling favorit di antara peminat teknik di sekolah gw.
  • Teknik Industri. Yang ingin merusak bumi, masuklah ke sini.
  • Teknik Pertanian, untuk yang fisika, biologi, dan kimianya kuat. Jurusan favorit gw.
  • Teknik Sipil. Yang suka fisika, terutama hukum Newton, hukum kekekalan energi, momen gaya, momen inersia, momentum, impuls, dan lain-lain, masuk sini aja.
  • Teknik Lingkungan, untuk pecinta lingkungan sejati.
  • Arsitektur, sahabat dekatnya Teknik Sipil.
  • Fakultas MIPA. Umumnya untuk siswa yang sudah ‘ditakdirkan’ masuk sini. Ditakdirkan maksudnya sudah dinobatkan menjadi ahli di pelajaran MIPA. Sudah jelas MIPA-nya harus super kuat, dengan tambahan (atau minus) faktor luck di SPMB.
  • Fakultas Ilmu Komputer. Untuk cracker / hacker atau pencinta komputer yang ingin mempergunakan kemampuannya untuk berbuat baik, masuk sini aja.
  • Fakultas Sastra. Jujur aja, gw jarang banget mendengar ada yang ingin masuk sastra. Apalagi sastra yang paling jarang didengar seperti sastra Jawa atau sastra Rusia. Ada ngga ya sastra Urdu?
Gw, seperti siswa lainnya, juga mengalami dilema seperti yang sudah disebut di atas: bingung memilih jurusan, dipengaruhi oleh orang terdekat, dsb. Bahkan hingga kini masih terjadi.
Keluarga gw berharap gw masuk Akuntansi, Manajemen, atau Bahasa Inggris. Ngga banget deh. Gw siswa IPA, ngga akan pernah gw murtad dari sains kecuali ngga punya kesempatan lagi untuk masuk sains. Gw satu-satunya di keluarga gw yang menjadi siswa IPA, satu-satunya yang menolak Akuntansi, dan satu-satunya yang punya harapan besar untuk masuk universitas negeri.
Sepupu gw menyarankan teknik kimia seperti suaminya atau teknik industri. Dan lagi-lagi alasannya karena faktor kemudahan pekerjaan dan gaji. Kenapa sih, semua yang masuk perguruan tinggi selalu berpacu pada pekerjaan? Gw ingin kuliah jujur aja bukan karena ingin mengejar pekerjaan dan gaji, tapi karena ingin belajar. Kalau bisa, gw ingin selamanya belajar tanpa memikirkan pekerjaan. Memikirkan pekerjaan justru menjadi tekanan selama kuliah, seperti siswa SMA yang memikirkan ingin masuk Universitas mana sehingga tidak fokus Ujian Nasional.
Teman-teman gw menyarankan gw masuk MIPA Fisika, karena gw menonjol di bidang fisika. Sepertinya mereka belum tahu kemampuan biologi gw. Dan sejauh ini belum ada guru yang mensugesti gw.
Pilihan gw dari yang terfavorit: Teknik Pertanian, Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Kehutanan, Agronomi, Biologi, Fisika, Teknik Kimia, Arsitektur, dst. Alasannya gw ngga tahu pasti, tapi sepertinya gw mempertimbangkan masalah lingkungan. Tapi gw juga ingin ‘bermain’ dengan biologi dan fisika, dua mapel yang paling gw kuasai. Maka, teknik pertanianlah jalan terbaik.

Perempuan

Makhluk yang tercipta dari tulang rusuk Adam. Tapi keberadaan makhluk ini bagi dunia sangat mengagumkan mengingat mereka berasal dari tulang rusuk. Mereka tak hanya tulang rusuk yang berjalan mendampingi pria, tapi mereka menguasai dunia. Dalam beberapa hal, perempuanlah yang terbaik. Dan tanpa mereka, dunia tak akan seindah ini.
Bila masih ada yang menganggap perempuan bukan makhluk yang luar biasa, sebaiknya kalian melihat ibu kalian sendiri. Tanya, berapa berat badan kalian sesaat setelah dilahirkan. Mampukan kalian membawa beban sedemikian berat tanpa henti selama beberapa lama? Belum lagi pengorbanan mereka pasca melahirkan hingga kalian bisa mandiri.
Itu adalah contoh terdekat. Masih ada contoh lainnya. Yang paling umum adalah wanita karier, terutama yang memasuki dunia karier yang biasanya dilakukan pria. Rasanya sulit membayangkan mereka bisa mencapai dunia yang seharusnya hanya bisa dimasuki pria, namun kenyataannya mereka banyak sekali saat ini. Zaman sekarang bukan hal aneh. Dan itulah bukti kekuatan perempuan.
Secara ilmiah hal itu bukan tidak mungkin terjadi. Kecuali dada, bokong, dan alat kelamin, tidak ada hal fisik yang membedakan perempuan dan laki-laki. Dan sudah lama diketahui di dunia sains bahwa perempuan memiliki intuisi yang lebih baik. Selain itu perempuan sangat menyukai keindahan, mengutamakan kualitas dari pada kuantitas, dan melihat sesuatu lebih mendalam. Keunggulan pria hanya dari kekuatan saja, itupun diperoleh dari hormon.
Di sekitar gw, ada banyak contoh perempuan luar biasa. Contoh paling utama sudah disebutkan. Yang lainnya adalah kakak perempuan dan kakak ipar gw yang keduanya wanita karier, lalu kepala sekolah gw, lalu guru-guru sekolah gw, dan semua perempuan manis yang pernah gw cintai. Gw ngga pernah salah mencintai perempuan. Mereka pasti memiliki keistimewaan selain fisik.
Selain itu masih ada lagi contoh perempuan luar biasa lainnya yang biasa kita lihat dalam berita, diantaranya:
  • Angela Merkel, kanselir Jerman.
  • Alm. Benazir Bhutto
  • Hilary Clinton
  • Gloria Arroyo
  • Alm. Lady Diana
Perempuan itu memang luar biasa. tanpa mereka dunia tak akan seindah ini.