Selasa, 09 September 2008

17 Agustus

Di tanggal 17 Agustus, setiap insan bangsa Indonesia wajib merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Lain dengan hari kebangkitan bangsa yang diragukan banyak orang, hari proklamasi adalah benar karena pada hari itulah Soekarno membacakan proklamasi dan menyatakan bahwa bangsa Indonesia merdeka saat itu juga, meski masih banyak hambatan yang terjadi pasca hari itu. Dan dengan semangat persatuan dan kemerdekaan, bangsa Indonesia berhasil sepenuhnya lepas dari tentara penjajah.
Tapi apakah benar saat ini kita benar-benar lepas dari penjajahan? Sangat sedikit yang mengatakan iya. Banyak yang berkata, kita justru telah dijajah kembali dengan cara yang baru. Secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya kita masih berada di bawah bayang-bayang dunia barat yang berpotensi merusak. Secara politik kita bisa lihat betapa banyak peraturan perundang-undangan negara kita terasa begitu kebarat-baratan dan tidak sesuai dengan bangsa Indonesia. Dan juga tentunya intervensi politik dari luar masih menghujani negara ini.
Secara ekonomi, sistem ekonomi Indonesia secara perlahan menuju ke arah kapitalisme yang jelas-jelas tidak sesuai dengan bangsa Indonesia dan terbukti mengalami kegagalan ketika terjadi kenaikan harga komoditas yang cukup tinggi akibat para spekulan. Budaya spekulasi juga warisan kapitalisme. Sistem ekonomi kapitalisme pun hanya menguntungkan pihak yang mempunyai uang banyak tapi menyingkirkan yang miskin.
Pada kehidupan sosial dan budaya kita telah diracuni oleh budaya barat yang merusak dan cara hidup yang individualistis. Hal itu juga memecah rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang merupakan senjata utama pertahanan bangsa Indonesia.
Dan merupakan tugas kita bangsa Indonesia yang masih hidup untuk melanjutkan perjuangan menuju kemerdekaan yang sepenuhnya.
Dan berhubung masih membicarakan hari proklamasi, gw juga ingin membicarakan ‘pesta rakyat’ yang selalu diselenggarakan di hari itu. Panjat pinang adalah yang paling umum sedangkan yang lainnya merupakan kreasi daerah masing-masing. Jujur aja, gw tidak menyukai hal itu karena inti dari permainan-permainan itu adalah bersenang-senang. Gw tidak senang bersenang-senang seperti itu, tapi sesuatu yang menguras kecerdasan dan kreativitas adalah hal yang paling menyenangkan buat gw. Masalahnya, sudah 63 tahun Indonesia merdeka tapi tetap saja bangsa Indonesia terlihat statis, bahkan dalam merayakan hari kemerdekaan yang sebenarnya bisa diubah dengan kreativitas dan tidak ada masalah jika diubah.

Minggu, 03 Agustus 2008

Pemilihan Umum dan Politik

Jujur saja, politik memang hal yang menarik untuk dipelajari, tapi tidak di sekolah. Mungkin karena nilai gw yang selalu rendah^^.
Masa kampanye untuk pemilihan umum tahun 2009 telah dimulai. Pertanyaan paling awal yang muncul di benak gw adalah, benarkah pemilihan umum itu? Gw merasa sistem pemilihan umum di Indonesia adalah salah, suatu kesalahan. Kenapa bisa ada banyak partai? Rasanya perbedaan ideologi tidak sebanyak itu. Negara kita adalah negara kesatuan. Banyaknya partai seolah tidak mencerminkan itu. Jadi, rasanya seperti perebutan kekuasaan, di mana seharusnya mereka bekerja sama. Sepertinya bukan politik jika itu tidak benar, tapi pikirkan lagi. “Perebutan kekuasaan.” Jika itu arti sebenarnya dari politik, maka kehidupan berbangsa dan bernegara kita dikuasai oleh nafsu memperebutkan kekuasaan. Berbahaya sekali nasib 250 juta lebih rakyat di tangan orang-orang seperti itu.
Jika menyadari itu, apa gunanya aktif di pemilu? Yakinlah bahwa pendapat ini benar: Kehancuran bangsa disebabkan oleh pemimpin yang salah. Tapi bagaimana bisa memilih pemimpin yang benar jika pilihannya begitu banyak? Mengambil suara terbanya tentu saja. Tapi calon dengan suara terbanyak dari banyak saingan belum tentu menang jika calon itu bertarung dengan sedikit saingan, jika calong itu tidak mendapatkan sekurang-kurangnya setengah dari total suara. Ibaratnya, dua puluh orang memilih satu biskuit dari tujuh kaleng berisi dua puluh biskuit, kecil kemungkinan ada kaleng yang bersisa setengah sehingga seharusnya sulit ditentukan mana yang paling enak. Apalagi jika ada orang yang belum tahu rasa biskuit yang lain yang tidak dipilihnya, hasilnya menjadi tidak valid.
Di politik pun terjadi hal yang demikian. Masih ada saja orang yang tidak tahu ‘rasa’ dari partai ini atau partai itu, dan jumlahnya pun tidak sedikit. Dan tidak ada kesempatan kedua untuk memilih setelah calon itu ditetapkan hingga masa jabatannya habis.
Apa yang akan dilakukan partai jika ingin masyarakat tahu ‘rasa’ mereka? Promosi politik alias kampanye. Tapi tentu saja, tidak berbeda dengan iklan kaleng biskuit, merek terkenal belum tentu yang terbaik. Rasa terenak belum tentu sehat dan murah. Bahkan mungkin biskuit buatan perusahaan rumah tangga bisa lebih enak, lebih sehat, dan murah, meski tidak terkenal. Tapi itu masalah selera, relatif. Dan tidak ada bedanya dengan politik yang membuat orang beropini partai ini baik, partai ini buruk, dsb. Hanya opini, dengan kata lain, relatif.
Dan sekali lagi, apa gunanya aktif di pemilu? Politik tidak memberi banyak lapangan pekerjaan secara langsung bagi bangsa Indonesia. Jika masyarakat mencoblos pun masih perlu waktu yang lama bagaimana hasil dari aktifnya mereka pada pemilu. Dan membutuhkan waktu lebih lama lagi bagi mereka untuk menunggu peningkatan kesejahteraan yang merupakan implikasi dari kegiatan politik yang belum tentu terjadi. Politik hanya menunggu saja bagi yang bukan orang politik. Plotik hanya menunggu, biarkan saja orang-orang yang rebutan kekuasaan itu bekerja. Tapi tidak seharusnya hidup kita bergantung pada politik, karena tentu saja pada awalnya hidup manusia tidak bergantung pada politik, tapi pada pemahaman terhadap alam dan sosial kemasyarakatan. Dari apda menunggu, ditipu oleh janji-janji politik, segeralah berbuat sesuatu karena setiap insan manusia dapat membuat perubahan yang lebih besar dari pada insan politik. Lihat saja di Amerika, begitu banyak aktivis lingkungan yang sudah membuat perubahan besar sementara para senat, apalagi presidennya, belum berbuat sejauh itu. Saya merasa sistem politik kita benar jika mengangkat para aktivis seperti itu. Yang pasti, aktivis bisa dipercaya dan tidak akan meminta gaji tinggi.
Sistem politik ideal menurut gw adalah pemerintahan yang dilakukan oleh kaum yang amat terpelajar bukan secara politik dengan menutamakan musyawarah mufakat. Pembagian kekuasaan tetap ada, legislatif, eksekutif, dan yudikatif dan semua harus konsisten pada wewenangnya sendiri, menghormati wewenang pihak lain, dan tidak mencampuri kekuasaan pihak lain kecuali dalam hal-hal tertentu. Para pejabat pemerintahan tidak boleh digaji tinggi-tinggi, tapi mereka dibayar dengan kehormatan dan kebanggaan. Pejabat pemerintahan yang baik tidak akan keberatan dengan hal itu. Sistem partai tetap ada, dengan ideologi masing-masing dan jika ada partai baru dengan ideologi yang sama, dilebur saja dengan partai yang sudah ada. Di dalam partai pun boleh berbeda pendapat, jadi untuk apa membuat partai baru? Siapapun yang sudah menjabat di pemerintahan harus melepaskan jabatannya di partai politik itu dan bersumpah tidak akan terlibat kegiatan partai terutama kampanye hingga masa jabatannya usai.
Sistem politik ideal yang menurut gw yang tidak ada di sistem politik Indonesia saat ini adalah semuanya. Pemerintahan tidak seharusnya dipimpin oleh orang politik, dan seharusnya ditiadakan saja istilah politik itu karena ilmu yang ada di dunia politik tidak menyentuh masyarakat, tapi seringnya mengenai kekuasaan. Pembagian kekuasaan ada, tetapi wewenang bercampur. Legislatif seharusnya sibuk pada pencarian masalah, musyawarah untuk mencari solusi, dan membuat peraturan dan undang-undang, tidak mencampuri apa yang dilakukan eksekutif. Jika eksekutif salah, biarkan yudikatif yang bekerja. Dan masalah penggajian, masih jauh dari yang seharusnya. Pemerintahan yunani kuno hanya membayar para legislatif dan eksekutifnya dengan beberapa koin emas saja, tidak jauh beda dari rakyat jelata, dan mereka dilarang memiliki barang-barang yang terbuat dari emas dan perak. Masalah partai sudah dijelaskan. Masalah jabatan di partai politik oleh pejabat pemerintah, itu belum menjadi kenyataan. Seharusnya sudah terjadi, agar para pejabat tidak bekerja di bawah pengaruh politk partainya. Kenyataannya, menteri kabinet pemerintahaan saat ini diizinkan cuti kampanye dan boleh menjadi calon presiden asalkan mundur dari jabatannya menterinya. Seharusnya tidak boleh. Kinerja kabinet menjadi terganggu, dan rakyat menjadi korbannya.
Indonesia terlalu bangga terhadap demokrasi sehingga pesta demokrasi seperti pemilihan umum terlalu dibesar-besarkan. Jauh lebih baik jika bangsa Indonesia bangga terhadap pendidikan, sains, hasil bumi, kemanusiaan, dan lingkungan. Bahwasannya itu jauh lebih berguna bagi bangsa dan negara.

Kehidupan Ideal Versi Gw

Siapa yang tidak ingin punya kehidupan ideal? Setiap orang boleh bermimpi demikian. Tapi sebaiknya jangan hanya bermimpi. Wujudkanlah. Dan kehidupan ideal untuk gw seolah sudah dekat bagi gw.
Kehidupan ideal versi gw:
Gw, lulusan IPB jurusan Teknik Pertanian yang lulus dengan IP mendekati 4.00, bekerja di salah satu badan di bawah Kementrian Riset dan Teknologi atau Departemen Pertanian. Tinggal di lantai teratas suatu apartemen, dekat dengan masjid besar memiliki mobil sport atau SUV off road electric semi otomatis dengan Anti-Lock Breaking System dan Electronic Braking Distribution, dengan sel photovoltaic tepat di atap dan kap mesin mobil dan baterei besar serta mesin yangs angat efisien. Memiliki istri yangs angat lovable, cerdas, dan setia yang bekerja sebagai tenaga medis atau aktivis lingkungan dan kemanusiaan. Selain itu, memiliki villa kecil di tanah yang sangat luas di dataran tingi, dengan sungai kecil yang melintas di belakang rumah dengan pembangkit listrik microhydro, hutan pinus, atap villa dipenuhi sel photovoltaic, dekat masjid besar milik sekolah menengah, perguruan tinggi, atau instansi pemerintah atau swasta, memiliki ekosistem kecil dalam kandang berisi berbagai macam binatang dengan bagian sungai mengalir di bawahnya, dan kincir angin penghasil listrik.
Setiap hari kerja berangkat jam enam pagi dengan electric sports/SUV off road car menuju laboratorium atau kerja lapangan sekaligus mengantar istri bekerja. Bekerja minimal delapan jam, jika sedang ada waktu luang menulis buku untuk diterbitkan, entah novel atau karya umum. Bersama dengan istri, menjadi aktivis.
Setiap Sabtu Minggu lari pagi, bermain sepak bola, atau absket. Jika ada waktu, mengajar di sekolah atau unversitas terbuka secara sukarela. Membuat situs pribadi, serta berkarya dengan menulis buku.
Suatu hari, hasil kerja gw berkontribusi besar pada dunia terutama abnsga dan negara Indonesia. Mendapat penghargaan dari presiden, lalu bersama istri meraih hadiah nobel atas empat hal: Ilmu pengetahuan dan teknologi, perdamaian, kedokteran, dan literatur.
Kehidupan ideal menurut gw harus berada di atas tiang-tiang berikut ini: Agama, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Lingkungan, Keseimbangan Ekosistem, Kemanusiaan, Kesehatan, dan Pendidikan. Tidak sulit untuk mewujudkan itu, gw percaya gw bisa.

Bersyukur Setiap Saat

Bersyukur adalah suatu bentuk kepuasan dalam hidup di kala mendapatkan sesuatu. Banyak agama menyatakan bersyukur adalah cara agar kenikmatan tidak putus datangnya. Sebenarnya hal ini bisa dijelaskan tanpa dalil agama, dan juga membuktikan bahwa ajaran akhlak agama adalah benar.
Di atas sudah dijelaskan pengertian bersyukur, lalu apakah manfaatnya selain yang telah dijelaskan oleh agama? Bersyukur menyatakan kepuasan, sedangkan salah satu sifat manusia yang berbahaya adalah tidak pernah puas. Dengan bersyukur, berarti kita telah mengeliminasi sifat manusia yang buruk dalam diri kita.
Bersyukur menyatakan kepuasan, yang berarti membuat kita semakin termotivasi untuk mendapatkan kepuasan yang lain. Terdengar berkebalikan dengan yang di atas, tapi sebenarnya sih tidak.
Bersyukur menyatakan kepuasan, yang berarti mengaku tidak sedang mengalami keburukan walaupun sedang mengalaminya. Mengekspresikan rasa syukur tidak hanya dilakukan ketika kita sedang mendapatkan kenikmatan, tetapi juga ketika sedang mengalami keburukan sebagai pernyataan bahwa sedang tidak mengalami hal yang buruk.
Gw punya seorang teman asal Pekalongan. Orangnya santai dan selalu terlihat senang walaupun sedang diejek. Ketika gw melihat ia tidak sengaja menjatuhkan bukunya, ia berkata, ”Alhamdulillah bukunya jatuh ke bawah. Bila jatuh ke atas akan susah mengambilnya.” Bagi yang mendengarnya pasti akan tertawa, tapi bagi gw itu adalah sesuatu. Bila bisa bersyukur, kenapa harus merasa kesal?
Tanpa disadari juga kita sering kali berada pada keadaan yang pantas untuk disyukuri tapi kita tidak bersyukur. Seperti contoh ketika sedang sehat, seringkali kita lupa bersyukur. Sementara ketika sedang sakit kita sangat merindukan kesehatan. Bahkan pada hal yang paling sederhana seperti bernafas. Seharusnya di setiap hembusan nafas kita bersyukur sementara di tempat lainada orang yang harus bernafas dengan alat bantu. Dan kita seharusnya bersyukur jika masih bisa melihat indahnya dunia. Bayangkan betapa malangnya orang buta.
Ketika kita dalam kesusahan pun kita tetap harus bersyukur karena tidak mendapatkan sesuatu yang lebih buruk. Kita harus tetap bersyukur hingga hal yang terburuk terjadi, yaitu ketika kita tidak mampu lagi bersyukur.

Adaptasi

Setiap manusia pasti pernah mengalaminya, masa-masa di mana sedang beradaptasi dengan suasana dan lingkungan yang baru yang akan dihadapi dalam waktu lama. Mungkin sama seperti binatang yang beradaptasi dengan habitat baru. Dan juga seperti binatang, tidak semua manusia bisa beradaptasi dengan suasana dan lingkungan yang baru. Beberapa butuh waktu lama untuk beradaptasi, tetapi ada juga yang cepat beradaptasi. Pasti menyenangkan jika terbiasa dengan semua lingkungan yang ada.
Kita sering melihat hal-hal seperti ini,dan mungkin juga pernah mengalaminya. Seperti contoh anak TK yang baru lulus dan siap belajar di Sekolah Dasar. Anak TK itu tentu saja akan berganti statusnya menjadi anak SD, dan ia juga harus beradaptasi untuk terbiasa dengan teman baru, ruang kelas baru, cara belajar yang baru, dan lain-lain. Adaptasi semakin cepat akan semakin baik karena untuk membuat prestasi di tempat baru haruslah merasa bahwa itu atmosfernya, lingkungan tempat di mana ia seharusnya berada.
Bagaimana jika tidak mampu beradaptasi? Bayangkan seekor binatang yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya, misalnya seekor burung elang gunung yang berasal dari daerah beriklim Mediterania dipindahkan ke pegunungan di Skandinavia yang beriklim dingin dan selalu bersalju. Maka burung elang itu harus mampu berburu binatang yang sering bersembunyi di bawah lapisan salju. Jika tidak bisa, elang itu akan mati. Itulah yang akan terjadi jika manusia saat ini tidak mampu beradaptasi. Bukan mati, hanya saja tidak bisa hidup selayaknya manusia yang mampu beradaptasi, meski masih ada kemungkinan mati.
Gw juga sedang mengalaminya. Sudah empat minggu di IPB, sudah cukup terbiasa meski amsih membutuhkan sedikit penyesuaian. Tapi gw menganggap gw cepat beradapatsi. Kenyataannya, gw sangat excited ketika menghadapi kelas kuliah pertama. Gw sangat ingin disibukkan oleh kegiatan kampus gw, gw siap menyelesaikan 200 SKS! Sepertinya yang terakhir tidak mungkin.
Gw ngga bisa memberikan tips mengenai beradaptasi dengan cepat, karena itu tergantung dari masing-masing individu. Tidak seperti binatang, setiap insan manusia berbeda-beda sifat dan perilakunya karena kita memiliki otak yang kompleks yang memuat berbagai tingkat emosi dan kecerdasan.
Intinya adalah, cepat-cepatlah beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Jadilah fleksibel di setiap suasana dan lingkungan yang ada agar mampu meraih pencapaian tinggi di setiap aspek kehidupan.

Minggu, 13 Juli 2008

Misi Hidup

Terkesan philosophic, dan memang benar demikian. Hidup harus memilik tujuan. Manusia yang tidak memiliki tujuan hidup, hidupnya akan terombang-ambing. Tidak ingin kan mengakhiri hidup sebelum memiliki tujuan hidup?
Jangan membayangkan hidup seperti ini: Lahir, menjadi bayi, balita, teman pertama, sekolah pertama, jenjang pendidikan selanjutnya, menjadi remaja, menjadi dewasa, lulus kuliah lalu bekerja, mencari pasangan hidup, memiliki keturunan, mengasuh anak, mendewasakan anak dan seterusnya hingga meninggal. Bila begitu, apa bedanya kita dengan binatang? Contohnya singa. Lahir, menyusui dari ibunya, tumbuh, belajar berburu dengan memperhatikan ibunya, lalu buruan pertama, lalu mencari pasangan dan memperoleh keturunan, dan seterusnya hingga meninggal. Tidak berbeda kan?
Ada keuntungan kita dilahirkan sebagai manusia. Kita memiliki emosi yang lebih kompleks, rasa iba, punya amarah, perasaan senang dan bahagia, dan punya keinginan selain nafsu seksual saja. Kita juga diberkati kecerdasan yang luar biasa. Pasti ada alasan mengapa kita memiliki semua itu.
Sebenarnya secara biologis kita tidak jauh berbeda dari binatang. Kita menjadi berbeda karena selain kita memiliki semua keistimewaan yang tersebut di atas, kita juga memiliki kemampuan untuk membuat perubahan di dunia. Binatang pada tahap tertentu sebenarnya mampu membuat perubahan terhadap dunia, tapi tidak sedahsyat manusia. Dan juga efeknya sudah tersapu oleh keberadaan manusia. Kebanyakan binatang saat ini hanya ‘hidup’ saja tanpa membuat perubahan hingga ke banyak generasi. Maukah kita menajdi seperti itu?”
Semua keistimewaan yang tersebut di atas tadi adalah handicap. Semua makhluk memilikinya, untuk bertahan hidup di habitatnya masing-masing. Harimau memiliki cakar, taring, dan kemampuan berburu. Elang mampu terbang dan menerjang mangsa. Manusia? Kita memiliki otak yang luar biasa, kecerdasan yang luar biasa yang membuat kita mampu bertahan di habitat manusia yang sekarang, peradaban.
Buatlah tujuan dalam hidup, dan itu harus berguna bagi umat manusia. Kita telah diberkati banyak hal sehingga kita menyebut diri kita lebih maju dari pada binatang. Jangan membuat tujuan hidup yang egois, karena itu malah membuat kita tidak berbeda dari binatang. Kita adalah makhluk sosial. Binatang saja masih bisa bersosialisasi dengan sesamanya dengan cara yang lebih sederhana.
Dalam beberapa hal, seberapa maju peradaban manusia, kita tetap tidak berbeda dengan binatang.
"We gotta remember, we live what we choose
It’s not what you say, it’s what you do
And the life you want is the life you have to make"

Renewable Resources

Renewable resources adalah sumber energi yang setelah dimanfaatkan bisa didapatkan kembali secara alami oleh proses alam dan hampir tidak bisa habis jika dimanfaatkan terus menerus bila dilestarikan keberadaannya. Saat in, renewable resources sedang dicari di tengah melambungnya harga bahan bakar fosil dan meningkatnya kesadaran kepada lingkungan. Meski begitu, energi dari bahan bakar fosil masih jauh mendominasi.
Energi dari bahan bakar fosil menghasilkan gas karbon dioksida yang sangat banyak dan sedang dimusuhi oleh kaum yang peduli lingkungan. Selain peningkatan kebutuhan yang mengakibatkan tingginya harga bahan bakar fosil, faktor lingkungan juga menyebabkan meningkatnya tren renewable resources. Manusia perlu suplai energi dari jenis berbagai sumber agar terjangkau dan pasokan pasti.
Tapi renewable resources bukan berarti tanpa cela. Jika salah dalam pengelolaannya, justru menyebabkan kerusakan lingkungan. Tapi bila benar, potensi ekonomi, ekologi, dan ilmu pengetahuannya sangat besar.
Macam-macam reneable resources adalah:
  • Geothermal, adalah sumber panas yang berasal dari dalam bumi (geo=bumi, thermal=panas). Umumnya berbentuk uap bertekanan tinggi. Manusia umumnya mencari uap tersebut, tapi ada juga yang menciptakan uap tersebut dengan cara mengalirkan air ke lapisan bebatuan dalam yang sangat panas. Uap yang didapat bisa langsung untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Kelemahan dari sumber energi ini adalah tekanannya sangat tinggi sehingga jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan. Selain itu, uap air yang datang biasanya bersamaan dengan berbagai jenis zat yang membahayakan dan dapat menyebabkan korosi sehingga biaya perawatannya tinggi jika tidak menggunakan teknologi dan material yang tepat.
  • Nuclear power. Prinsipnya sederhana, dengan memanfaatkan energi dari nuklir untuk menguapkan air menjadi uap bertekanan tinggi yang memutar turbin. Zero carbon emmision, tapi membutuhkan banyak air. Jangan percaya terhadap bahaya nuklir, saat ini semua itu sudah bisa ditangani. Kemungkinan reaktor bocor sangat-sangatlah kecil. Sudah terjadi jutaan reaksi nuklir untuk menghasilkan listrik, tapi kebocoran reaktor baru bisa dihitung dengan hitungan jari. Kita akan menjadi sulit berkembang, terutama mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat esensial bagi kehidupan manusia, jika kita tidak berani mengambil risiko yang sangat kecil itu.
  • Solar panel. Jenis energi yang cukup pintar karena tahu matahari pasti akan selalu bersinar hingga manusia terakhir meninggalkan bumi. Solar panel terbagi menjadi dua: photovoltaic, dan heat reflector. Photovoltaic mengubah cahaya menjadi energi listrik secara langsung, sedangkan heat reflector memantulkan panas matahari dan memfokuskannya pada satu titik untuk mendapatkan panas yang lebih intens. Panas itu bisa untuk photovoltaic untuk mendapatkan energi yang lebih besar, atau untuk menguapkan air dalam pipa tahan panas untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi. Uap tersebut bisa untuk berbagai keperluan, tapi umumnya untuk memutar turbin listrik. Kekurangan solar panel hanya pada efisiensi dibandingkan dengan luas area yang dibutuhkan untuk mendapatkan listrik. Solar panel juga tidak mampu bekerja secara optimal pada keadaan cuaca berawan, apalagi malam. Biasanya solar panel hanya untuk aplikasi praktis seperti pengisian baterai, dan untuk emergency situation jika sumber listrik utama menghilang.
  • Wind power. Menggunakan tenaga angin untuk menggerakkan turbin. Energi dari gerakan angin bisa untuk hal-hal seperti memompa air, menggiling gandum, dan sebagainya serta untuk menghasilkan listrik. Turbin angin terbagi menjadi dua jenis, yaitu turbin horizontal dan turbin vertical. Turbin horizontal adalah turbin yang umum dipakai dan hanya untuk angin satu arah, tapi bisa diatasi dengan penopang turbin yang bisa diatur arahnya. Turbin vertical adalah turbin untuk angin dari segala arah, angin samping maupun angin vertical, tetapi putarannya tidak secepat turbin horizontal. Kekurangan turbin angin adalah energi angin tidak selalu datang dalam keadaan konstan, dan turbin angin juga menghasilkan polusi suara yang semakin baik diatasi di jaman sekarang ini.
  • Hydro power, yaitu memanfaatkan energi dari massa air yang bergerak secara vertical maupun horizontal. Yang vertical umumnya terdapat pada bendungan pembangkit listrik. Sungai besar dibendung untuk mendapatkan ketinggian air tertentu sehingga tekanan air di dasar bendungan semakin besar. Tekanan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memutar turbin. Yang horizontal memanfaatkan arus permukaan atau arus dalam air. Keduanya menggunakan kincir atau turbin. Bedanya adalah apda arah gerak turbin dan bentuk turbin. Yang memanfaatkan arus permukaan, turbin berputar searah arah arus dan bentuk turbinnya seperti roda. Yang memanfaatkan arus dalam, turbin berputar tegak lurus dengan arah arus dan bentuk turbinnya seperti turbin angin. Kelemahan dari hydro power adalah membutuhkan banyak air sehingga tidak bisa bekerja dengan baik jika terjadi kekeringan. Selain itu, hydro power berbentuk bendungan juga berpotensi merusak ekosistem air.
  • Hydro thermal, yaitu menggunakan selisih antara suhu permukaan air laut dan suhu dalam air laut untuk membuat perbedaan tekanan yang bisa memutar turbin. Teknologi ini cukup efisien, dan laut menutupi sebagian besar permukaan bumi sehingga memiliki potensi besar. Masalah yang masih dihadapi adalah pada efisiensi yang masih dalah pengembangan. Selain itu, cukup sulit menemukan laut yang memiliki selisih suhu permukaan dan suhu dalam yang cukup besar selain di laut tropis.
Listrik memang bisa dihasilkan dari apa saja untuk apa saja. Segala hal yang biasa kita lakukan dengan api dan pembakaran bisa kita lakukan dengan listrik, seperti memasak, memutar mesin, atau mengendarai kendaraan. Dan untuk mendapatkan listrik tidak harus dengan membakar sesuatu. Di masa depan, listrik akan mendominasi, bahkan untuk menerbangkan pesawat luar angkasanya, karena memang sudah ada teorinya.
Sudah saatnya berganti era, dari jaman api menjadi jaman listrik. Masih pakai bensin? Ngga jamannya lagi.