Rabu, 07 Januari 2009

New Year's Eve

Ini adalah malam di mana manusia di seluruh dunia merayakan sesuatu tanpa alasan yang jelas kecuali pergantian kalender dengan yang baru. Entah apa yang istimewa dari hal ini, karena di langit pun tidak terjadi hal yang istimewa. Seandainya itu terjadi ketika summer equinox, mungkin akan lebih pantas untuk dirayakan.
Sungguh tidak ada hal yang istimewa dari pergantian tanggal dari December 31st ke January 1st. Dan dihitung mundur? 5, 4, 3, 2, 1? None of NASA’s space shuttle is launcing!! Ketika SMA gw menghitung mundur berakhirnya jam mata pelajaran sejarah dan itu rasanya lebih menyenangkan.
Ini hanya malam biasa. Sikap manusialah yang menjadikannya hal yang istimewa. Tapi lihatlah akibat buruk dari perayaan ini. Banyak sampah bertebaran di tempat-tempat wisata akibat membludaknya wisatawan di tahun baru ini dan sedikit sekali usaha untuk membersihkannya kembali. Ini semua akibat sikap manusia yang tidak memahami mana yang lebih penting. Bagi mereka, merayakan sesuatu yang tidak jelas sambil membuang sampah sembarangan dan merusak keindahan adalah hal yang penting.
Dan resolusi & harapan-harapan untuk tahun baru sesungguhnya hanya menunjukkan sifat buruk manusia. Di tahun baru ini mereka baru berharap, padahal hal buruk telah terjadi sepanjang tahun. Mengapa tidak dilakukan setiap malam agar keesokan harinya kita berusaha agar tidak terulang kembali dan tidak menumpuk di malam tahun baru?

Berhenti Mengenang, Mulailah Berjuang

Jika ada sesuatu yang dikenang biasanya adalah masa perjuangan sebelum meraih kejayaan atau masa keemasan sebelum keruntuhan. Tapi sesungguhnya keduanya sama saja, yaitu sering dikenang. Dan menurut gw tidak ada satupun yang pantas untuk dikenang.
Mungkin latar belakang gw menulis ini karena gw tidak terlalu pandai pada mata pelajaran sejarah. Tapi itu juga ada alasannya, yaitu mengapa mempelajari pelajaran yang tidak ada aplikasi nyatanya?
Sebagai contoh hari pahlawan sepuluh November. OK, hari pahlawan. November 10th, day of heroes.
Hari pahlawan.
Lalu apa?
Sungguh ini tanpa arti. Tapi banyak sekali orang yang merayakannya secara berlebihan. Berhenti mengenang, mulailah berjuang! Para pahlawan pun tidak punya waktu untuk mengenang ketika sedang berjuang. Apakah ketika hari itu datang kita hanya duduk berpesta dengan alasan mengenang?
Sudah menjadi ciri khas Indonesia tuh. Itu satu-satunya alasan mengapa kita punya banyak sekali memorial day. Hari Pahlawan, Hari Kartini, Hari Bhayangkara, Hari Pancasila, G30S/PKI. Banyak!
Dan juga, makna-makna yang harus dikenang pun sudah tidak lagi berlaku saat ini, bahkan mendekati status tak berarti.
Contohnya sumpah pemuda. Berbahasa satu, berbangsa satu, bertanah air satu. Alasan kita tidak harus menghayatinya lagi adalah karena itu semua berlawanan dengan jalan menuju kesuksesan.
Jika ingin sukses kita tidak bisa hanya bertahan pada satu bahasa karena masih banyak text book yang berbahasa asing. Dan kita tidak bisa terus-terusan bertahan di negeri ini karena luar negeri menjanjikan kesuksesan yang nantinya bisa kita implementasikan di dalam negeri.
Itu hanya contoh kecilnya saja. Pada kenyataannya makna sejarah itu seperti koin bernominal kecil. Pada jaman dulu mungkin itu berharga. Tapi untuk sekarang tidak ada nilainya.
Maksudnya adalah, ubahlah makna sumpah pemuda menjadi sesuatu yang lebih global dan berharga. Tahu apa yang paling penting saat ini? Lingkungan dan kemanusiaan, dan keduanya tidak tercantum secara jelas pada sumpah pemuda.

Minggu, 14 Desember 2008

Barack Obama

Presiden USA yang baru telah terpilih. Go to hell, Bush. The angel just came from heaven to lead the America.
Seperti yang dikeathui, Bush terkenal akan kegemarannya dalam mengirim rakyatnya berperang dan menghabiskan anggaran negara yang seharusnya untuk rakyat dibakar menjadi ledakan mesiu. Diharapkan keberadaan Obama yang lebih konservatif dan lunak dalam strategi timur tengah mampu mengubah segalanya, termasuk mengubah imej Amerika yang telah dianggap teroris sesungguhnya oleh banyak orang.
Kemenangan Obama juga tidak lepas dari visi ekonominya. Amerika mengalami resesi di bawah kepemimpinan presiden partai republik.
Mliter, ekonomi, dan lingkungan, itulah tiga hal yang seharusnya menjadi tugas utama barack Obama, tiga hal yang telah menajdi aib pemerintahan sebelumnya, tiga hal yang harus dibenahi. Seluruh rakyat Amerika dan dunia menanti aksinya dalam perbaikan ketigahal tersebut dan menaruh harapan mengenai arti baru perdamaian bagi Amerika.
Harapan gw bagi Obama:
  • Kurangi pendanaan di militer yang irrasional, tempatkan lebih banyak budget di kesehatan dan pendidikan.
  • Kebijakan lingkungan yang lebih rasional, jangan menutup mata.
  • Tingkatkan pajak kendaraan bermotor.
  • Tetapkan pajak progresif penghasilan.
  • Tingkatkan santunan kesehatan.
  • Pendanaan riset dan teknologi ditingkatkan.
  • Pembaharuan sistem ekonomi.
  • Berhenti menganak emaskan Israel.
Jika itu semua tercapai, terciptalah dunia impian. Percayalah.
We trust you, Obama.

Indonesia Banget

Satu hal yang menjadi trade mark Indonesia dan tidak ada di negara lain adalah masalah ngaret. Hal ini sudah berakar dari hal yang kurang resmi seperti janjian dengan teman hingga masalah kenegaraan. Percaya atau tidak, masalah ini adalah masalah besar yang tidak terdeteksi oleh banyak orang karena mungkin tidak ada cukup waktu untuk menghitung kerugian dari hal ini dan melaporkannya DI SAAT YANG TEPAT.
Pengalaman gw sebagai individu, banyak sekali 'perjanjian' dan acara-acara dari resmi seperti seminar hingga nonresmi seperti kumpul kelompok kerja, yang gw alami mengalami keterlambatan dalam memulainya. Dan pengalaman gw dalam meminta sesuatu melalui birokrasi selalu mengalami keterlambatan, dari hal yang sederhana seperti membuat KTP. Jika data diri tidak disertai 'selipan' sesuatu, tidak akan cepat prosesnya.
Kebiasaan korupsi uang dan waktu memang sudah mendarah daging di setiap manusia yang tidak sehat jiwanya. Tapi selama gw tinggal di Indonesia (seperti pernah tinggal di negara lain aja) kebiasaan ngaret ini terlihat jelas banget. Dan selama gw ngobrol dengan banyak orang Eropa, mereka tidak pernah mengatakan hal ini. Mereka tidak pernah direpotkan oleh masalah ngaretnya birokrasi ataupun oleh teman mereka.
Pengalaman gw janjian dengan sekelompok mahasiswa UI temen2 gw, mereka ngaretnya sampai satu jam. Apakah mereka juga diajarkan kebiasaan yang Indonesia banget ini? Namanya juga Universitas Indonesia.
Entahlah, mungkin gw hanya kesal saja dengan semua ini. Mengganggu banget. Jika saja tidak ada satu orang pun di negara ini yang ngaretnya tidak lebih dari lima menit saja, Indonesia akan menjadi negara yang makmur. Percaya deh, dari kebiasaan kecil jika dilakukan oleh banyak orang akibatnya akan besar. Contoh saja mengenai membuang sampah plastik di sungai. Jika satu individu berpikir "Hanya satu sampah kecil," bagaimana jika jutaan orang berpikiran yang sama?

Indonesia Banget

Satu hal yang menjadi trade mark Indonesia dan tidak ada di negara lain adalah masalah ngaret. Hal ini sudah berakar dari hal yang kurang resmi seperti janjian dengan teman hingga masalah kenegaraan. Percaya atau tidak, masalah ini adalah masalah besar yang tidak terdeteksi oleh banyak orang karena mungkin tidak ada cukup waktu untuk menghitung kerugian dari hal ini dan melaporkannya DI SAAT YANG TEPAT.
Pengalaman gw sebagai individu, banyak sekali 'perjanjian' dan acara-acara dari resmi seperti seminar hingga nonresmi seperti kumpul kelompok kerja, yang gw alami mengalami keterlambatan dalam memulainya. Dan pengalaman gw dalam meminta sesuatu melalui birokrasi selalu mengalami keterlambatan, dari hal yang sederhana seperti membuat KTP. Jika data diri tidak disertai 'selipan' sesuatu, tidak akan cepat prosesnya.
Kebiasaan korupsi uang dan waktu memang sudah mendarah daging di setiap manusia yang tidak sehat jiwanya. Tapi selama gw tinggal di Indonesia (seperti pernah tinggal di negara lain aja) kebiasaan ngaret ini terlihat jelas banget. Dan selama gw ngobrol dengan banyak orang Eropa, mereka tidak pernah mengatakan hal ini. Mereka tidak pernah direpotkan oleh masalah ngaretnya birokrasi ataupun oleh teman mereka.
Pengalaman gw janjian dengan sekelompok mahasiswa UI temen2 gw, mereka ngaretnya sampai satu jam. Apakah mereka juga diajarkan kebiasaan yang Indonesia banget ini? Namanya juga Universitas Indonesia.
Entahlah, mungkin gw hanya kesal saja dengan semua ini. Mengganggu banget. Jika saja tidak ada satu orang pun di negara ini yang ngaretnya tidak lebih dari lima menit saja, Indonesia akan menjadi negara yang makmur. Percaya deh, dari kebiasaan kecil jika dilakukan oleh banyak orang akibatnya akan besar. Contoh saja mengenai membuang sampah plastik di sungai. Jika satu individu berpikir "Hanya satu sampah kecil," bagaimana jika jutaan orang berpikiran yang sama?

Rabu, 08 Oktober 2008

Pasca Mudik = Masalah Ibukota?

Pasca mudik, sebagian pemudik membawa saudara-saudaranya dari kampung halaman ke kota dengan harapan bisa bekerja. Itu berarti juga urbanisasi, yang kita tahu biasanya membawa masalah.
Urbanisasi adalah arus perpindahan penduduk dari lura kota ke kota. Bisa dibilang, urbanisasi mendatangkan banyak masalah, baik di kotanya maupun di daerah tempat asal urbanisasi. Lebih banyak masalahnya dari pada manfaatnya. Masih adakah orang yang sadar dari masa asal gelandangan dan pengemis yang ramai di ibukota ini? Mereka adalah akibat dari urbanisasi yang tidak terencana. Kebanyakan urbanisasi memang seperti itu, kan?
Untuk mencegah bertambahnya jumlah penduduk akibat urbanisasi yang tidak terencana itu dan melebihi jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia, wajar jika para pejabat pemerintah ibukota menggelar operasi yustisi pasca mudik lebaran. Ada yang bilang, itu melanggar HAM, tapi yang sebenarnya adalah jika tidak melakukan apa-apa justru suatupelanggaran HAM karena operasi yustisi bertujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi mereka yang tidak memiliki rencana di ibukota sehingga tidak menjadikan mereka gelandangan atau pengemis. Dengan hidup menderita di kota pun mereka tetap akan memaki para pejabat pemerintah ibukota itu, dalam hati ataupun lisan.
Apa penyebab semua itu? Akarnya adalah kesejahteraan di daerah asal yang kurang, bahkan masih jauh dari cukup. Pemerintah pusat seharusnya memikirkan itu,jangan hanya mengurus kemacetan ibukota yang sebenarnya adalah kesalahan warga itu sendiri. Tapi kurangnya kesejahteraan masyarakat adalah tanggung jawab pemerintah.
Tapi saran gw untuk semua pemudik, janganlah membawa kerabat asli daerah menuju kota besar tanpa persiapan yang cukup. Hal itu, jika dipikirkan matang-matang, akan berakibat buruk pada daerah tersebut, tidak hanya pada ibukota saja. Misalnya, daerah tersebut akan kehilangan tenaga produktif yang seharusnya berguna untuk pembangunan daerah tersebut. Seburuk apapun daerah itu, pasti ada yang bisa mereka lakukan. Dan bagi yang sudah sukses di kota, jangan lupa untuk membangun daerah asal. Jangan egois!

Mudik

Ini kebiasaan bangsa Indonesia ketika libur panjang tiba, dan biasanya sih ketika libur Idul Fitri. Memang sih tidak semua bangsa Indonesia melakukan ini, tapi cukup banyak sehingga menjadi trade mark-nya Indonesia.
Berawal dari kebijakan sentralisasi pemerintahan orde baru terhadap ibu kota yang membuat warga dari daerah keluar dari tempat asal mereka yang kurang menjanjikan menuju ibu kota untuk mencari kesejahteraan. Maka timbul arus urbanisasi yang membuat ibukota sesak. Tapi tentu saja pada suatu saat, setidaknya sekali setahun, mereka yang dulu berurbanisasi merealisasikan keinginan mereka untuk kembali sejenak ke kampung halaman tempat asal mereka.
Dan dari berbagai musim di Indonesia (musim layangan, musim duren, musim rambutan), dua belas bulan, 52 minggu, dan 365 hari setahun, mayoritas kaum urban memilih hari lebaran.
Ada banyak kkemungkinan mengapa kaum urban mudik. Yang paling jelas, adalah kangen. Bukan karena ingin dengar lagu Kangen Band yang menjijikan itu, tapi memang kangen pada keluarga. Tapi bila tidak dijelaskan secara lengkap, rasanya janggal ya? Jika kangen, seharusnya bisa pulang kapan saja dan tidak harus menunggu lebaran tiba. Kita akan membahasnya nanti.
Lalu, pamer adalah alasan kedua, dengan tidak menggunakan arti yang sebenarnya. Mereka yang berurbanisasi ingin menunjukkan kepada kampung halamannya bahwa mereka bisa hidup mapan dan berkesinambungan di ibukota.
Lalu mengapa memilih hari lebaran? Merayakan hari raya memang lebih tepat bersama keluarga. Itu sudah tradisi. Lagipula, biasanya hari raya hanya satu kali setahun.
Selain itu, lebaran ‘membawa’ libur panjang. Karena perjalanan dan lamanya tinggal sejenak di daerah asal untuk melepas kangen butuh waktu berhari-hari sehingga mereka memanfaatkannya. Entah siapa yang memulai tradisi libur panjang ini, tapi sudah jelas ini telah menjadi tradisi karena ada yang memulainya entah kapan, lalu yang lain mengikuti dan terus terjadi secara periodik.
Seperti yang sudah diketahui, mudik adalah perjalanan yang dilakukan oleh seseorang dari tempat ia tinggal dan bekerja ke kampung halaman tempat ia dilahirkan. Gw hanya menyebut dua alasan yang pasti muncul tentang mengapa orang-orang memilih hari-hari sekitar hari lebaran, tapi gw masih heran mengapa harus di hari-hari itu? Kedua alasan itu kurang kuat bagi gw. Karena mereka kompak mudiknya, itu menimbulkan banyak masalah di jalanan.
Berbagai masalah yang pasti terjadi di antaranya:
Macet. Tentu saja demikian. Jakarta yang memiliki jalan raya yang begitu panyang dan lebarnya pun tetap macet di hari biasa, bagaimana jalan di daerah yang tidak selebar jalan ibu kota?
Traffic accident. Biasa terjadi kok, bahkan di hari biasa. Tapi entah kenapa kecelakaan di hari-hari mudik diberitakan lebih heboh. Kecelakaan-kecelakaan itu paling banyak terjadi di jalan raya dan menimpa kendaraan pribadi, 75%nya sepeda motor. Jumlahnya ribuan pada arus mudi 2007, dan korbannya jiwanya ratusan, terjadi dalam dua minggu. Sebenarnya sih, mudik ga mudik, jumlah kecelakaan tetap besar.
Tindak kejahatan meluas. Ya tentu saja, karena ‘target’ membludak, para kriminal jadi bersemangat karena mendapat job banyak, disamping peningkatan tingkat pengamanan tidak sebesar peningkatan jumlah ‘target’ para kriminal itu. Jenis kejahatan yang paling sering terjadi adalah pencopetan, seperti yang baru saja gw alami(T_T), dan dapat terjadi di jenis transportasi apa saja.
Emisi karbon dioksida. Tentu saja ini adalah dosa pengendara kendaraan pribadi, tapi mereka tapi mereka seperti tanpa dosa. Dan ini juga masalah, selain masalah lingkungan juga masalah kemanusian dan masalah moral.
Kebanyakan manusia mudk sebelum lebaran dan kembali setelahnya. Mengapa tidak mudik setelah lebaran saja? Itu saran gw, karena mudik ketika masih di bulan puasa mengorbankan banyak hal, terutama dalam hal ibadah. Bukankah sebaiknya berlebaran di tempat tinggal dulu, baru setelahnya di kampung halaman. Banyak yang bilang, orang kota itu individualis. Tapi kalau gw memikirkan fakta di atas, yang sebenarnya justru sebaliknya. Individualis adalah mementingkan kepentingan diri sendiri, keluarga, dan golongan. Bukankah yang mementingkan berlebaran di kampung halaman adalah orang-orang yang seperti itu? Padahal ia sudah tergabung dengan suatu masyarakat. Tapi ketika ia seharusnya merayakan lebaran dengan masyarakat yang telah memberinya tempat tinggal, malah ditinggalkan.
Dan mengenai proses mudiknya, gw menyarankan agar menggunakan public transportation. 75% kecelakaan mudik itu diakibatkan oleh sepeda motor, dan lebihbesar lagi persentasenya jika yang dihitung adalah kecelakaan yang diakibatkan oleh semua kendaraan pribadi. Selain itu, para pemudik yang menggunakan public transportation juga terhindar dari dosa sebagai pengendara kendaraan pribadi. Yang namanya mudik itu kan kembali bersih lagi, jiwa dan raganya.