Rabu, 13 Februari 2008

Ujian Nasional

Ada yang ngerasa aneh ngga kenapa pemerintah mengadakan ujian nasional? Sepertinya beralasan, tapi ngga fair mengingat penentuan kelulusan kita hanya ditentukan oleh enam pelajaran itu dalam waktu tiga hari, sementara kita sudah susah payah mengejar nilai hanya untuk naik kelas.
Gw sih setuju aja tentang ujian nasional ini dengan beberapa syarat. Sayangnya, syarat itu belum terpenuhi sama sekali. Syarat2 itu diantaranya :
  • Sudah terpenuhinya segala fasilitas penunjang pendidikan di seluruh sekolah di Indonesia ini. Denger2 nilai kelulusan itu berlaku nasional. Bagaimana dengan SMA yang ngga lengkap fasilitasnya sehingga kegiatan belajar mengajar mereka terganggu. Kan kasihan, iya ngga? Kayaknya kita masih sering dengar tentang sekolah yang kebanjiran ataupun rusak berat. Belum lagi kualitas gurunya yang belum merata di seluruh Indonesia.
  • Masih adanya pelajaran yang ngga berguna yang ngga ada hubungannya dengan jurusan. Sebagai contoh, gw anak kelas IPA. Gw ngerasa pelajaran Kewarganegaraan, Agama, Bahasa Indonesia, dan Sejarah ngga ada gunanya di kelas gw. Dan semua pelajaran itu amat menyita waktu di mana kita seharusnya belajar untuk kelulusan. Gw ngga setuju keberadaan pelajaran Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Sejarah karena gw rasa itu pelajaran kelas IPS. Bagaimanapun juga, masa sih anak IPA meneruskan kuliah di Politik/Bahasa/Sejarah? Kalau ada, itu sih murtad namanya. Dan pelajaran Agama seharusnya bukan pelajaran wajib, tapi sebagai ekskul wajib yang ngga ada ulangannya.
Gw rasa hanya itu yang membuat gw kesal dengan Ujian Nasional. Sekarang kita bahas mengenai sikap siswa menghadapi Ujian Nasional.
Para siswa seharusnya mengurangi jam main mereka untuk menghadapi ujian sialan ini, tapi temen2 gw ternyata tidak demikian. Mereka masih menganggap bahwa ujian nasional hanya sebuah ujian biasa. Ada banyak hal yang membedakan ujian ini dengan ujian biasa, yaitu :
  • Pengawasnya dari sekolah lain, yang sudah pasti ngga akan memberikan kesempatan sedikitpun agar sekolah saingannya itu mendapat kelulusan 100 persen.
  • Menentukan kelulusan banget, bikin jantung deg2an sehingga ngerjainnya pun menjadi penuh tekanan dan tidak fokus seperti biasa. Sepertinya gw terlalu mendramatisir.
  • Mata ujiannya cuma enam. Ujian biasa ngga sesedikit itu.
  • Yang diuji adalah pengetahuan para siswa yang didapat dari kelas satu hingga kelas tiga. Ujian biasa paling hanya ilmu satu semester saja.
Gw yakin para siswa, termasuk temen2 gw tahu tentang semua itu. Itu terlihat dari apa yang gw lihat pada saat Try Out hari Senin 11 Feb sampai Rabu 13 Feb. Mereka kelabakan(Gw juga sih). Dan masih membudayakan mencontek. Belajar secara SKS (sistem kebut semalam).
Yang membuat gw heran, kok masih aja nyontek di Try Out? Bagaimana bila mereka berhadapan dengan ujian sebenarnya yang gw perkirakan soalnya lebih susah dari hari2 itu dan pengawasnya bukan guru sekolah sendiri. Ini kan cuma uji coba, yang termasuk menguji coba kebiasaan kita dalam menghadapi ujian.

Tidak ada komentar: